Selasa, 19 Mei 2009

Mempersiapkan dan mengisi kemenangan

dakwatuna.com -
“Sesungguhnya Allah pasti menolong orang-orang yang menolong (agama)-Nya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Kuat lagi Maha Perkasa. (yaitu) orang-orang yang jika Kami teguhkan kedudukan mereka di muka bumi niscaya mereka mendirikan shalat, menunaikan zakat, menyuruh berbuat ma’ruf dan mencegah dari perbuatan yang mungkar dan kepada Allah-lah kembali segala urusan.” (Al-Hajj: 40-41)

Ibarat dua sisi mata uang, mempersiapkan dan mengisi kemenangan merupakan dua hal yang padu, saling berkaitan, dan tidak bisa dipisahkan. Program dan aktivitas untuk mempersiapkan kemenangan adalah juga program dan aktivitas untuk mengisinya. Kesungguhan dan kegigihan memperkuat hubungan dengan Allah dan seluruh umat harus tetap dipertahankan saat kemenangan sudah diraih. Jangan sampai terjadi saling berlawanan; sebelum kemenangan begitu antusias memperjuangkan umat, namun setelah berhasil meraih sukses, justru lupa dan bahkan cenderung mengabaikan kewajiban terhadap mereka. Apalagi jika sampai lupa terhadap Allah swt. Na’udzubillahi min dzalik.
Petikan terakhir dari ayat 40 dan keseluruhan ayat 41 di atas bisa dipahami dalam dua dimensi yang berbeda; pertama, dimensi sebelum peperangan dan perjuangan yang mengundang pertolongan Allah. Kedua, dimensi pasca peperangan dan kemenangan yang diraih oleh umat Islam berkat pertolonganNya. Pada dimensi sebelum peperangan, kemenangan itu harus melalui beberapa syarat, sebab, dan beban-beban yang besar, di antaranya seperti yang tertuang dalam ayat di atas, yaitu mendirikan shalat, menunaikan zakat, serta aktif bergerak dalam aktivitas amar ma’ruf dan nahi munkar. Sedangkan pada dimensi pasca kemenangan, umat Islam tetap dituntut untuk tidak lalai apalagi menjadi malas setelah berhasil meraih kemenangan dalam merealisasikan beberapa ajaran Allah yang di antaranya termanifestasikan dalam amaliah mendirikan shalat, menunaikan zakat, serta tetap memberi kepedulian tentang kebaikan dan kemungkaran yang terjadi di tengah-tengah umat.
Begitulah hikmah dan pelajaran yang bisa dipetik dari dua ayat diatas, bahwa implementasi dari rasa syukur atas kemenangan yang diberikan oleh Allah adalah yang pertama sekali harus tetap menjaga komunikasi dan harmonisasi hubungan vertikal dengan Allah swt. yang dibarengi dengan tetap memberikan kepedulian terhadap masyarakat yang tercermin dari pelaksanaan zakat yang kemudian disempurnakan dengan semangat menebar kebaikan dan mempersempit gerak kemungkaran yang terjabarkan dengan aksi amar ma’ruf nahi munkar yang merupakan inti dari gerak dakwah. Ini berarti bahwa kemenangan adalah kemenangan dakwah dan kemenangan agama Islam secara sinergi.
Dalam rumusan ayat di atas, mempersiapkan diri untuk menerima kemenangan harus tetap memperhatikan aspek syariat dan norma agama, demikian juga dalam mengisi kemenangan yang merupakan anugerah Allah harus tetap konsisten memperjuangkan syariat dan norma agamaNya. Mengomentari korelasi dua ayat diatas, Sayyid Quthb mengemukakan bahwa kemenangan itu terkadang datang perlahan-lahan karena Allah hendak menguji sejauh mana syarat dan sebab kemenangan itu wujud seratus persen dalam sebuah umat. Kemenangan juga terkadang datang perlahan-lahan karena untuk menguji kesungguhan kita dalam menegakkan syariatNya. Dan begitu seterusnya. Justru jika kemenangan itu diraih dengan mudah, tanpa usaha yang sesungguhnya, ia akan segera lenyap, sirna dan tidak memberi dampak kebaikan kepada semua. Maka secara dzahir -menurut Abu Hayan- ayat ini menepati ciri-ciri yang terdapat pada kaum muhajirin yang mendapatkan perlakuan dan tindakan keji seperti yang digambarkan pada ayat 40: “(yaitu) orang-orang yang telah diusir dari kampung halaman mereka tanpa alasan yang benar, kecuali karena mereka berkata: “Tuhan kami hanyalah Allah.” Kemudian Allah menjanjikan ‘tamkin’ (kekuasaan dan kemenangan) setelah segala kesulitan dan penyiksaan yang mereka rasakan. Ustman bin Affan r.a. berkata: “Demi Allah, sungguh ayat ini merupakan pujian dan jaminan Allah setelah segala ujian yang menimpa (orang-orang Muhajirin yang disebut pada ayat sebelumnya).”
Abu Su’ud sependapat dengan Zamakhsyari yang menyimpulkan bahwa ayat ini merupakan bukti akan kebaikan dan keberhasilan kepemimpinan di era Khulafa’ Rasyidun. Allah tidak memberikan kekuasaan dan kepemimpinan yang diwarnai dengan perjalanan yang baik dan mengesankan selain kepada mereka. Melalui ayat ini Allah memuji mereka bahwa mereka akan tetap komit dengan menegakkan syariat Allah atas kemenangan dan kekuasaan yang akan segera mereka raih setelah diizinkannya berperang melawan musuh-musuh mereka. Hal ini berdasarkan dhomir ‘alladzina’ yang dirujuk pada awal ayat 40 merupakan orang-orang yang sama yang dirujuk oleh dhomir ‘alladzina’ pada ayat 41, yaitu orang-orang Muhajirin.
Secara makna, korelasi dua ayat di atas bisa ditemukan pada surah An-Nashr yang termasuk di antara surah yang terakhir kali diturunkan Allah swt. Imam Asy-Syaukani dalam Fathul Qadir coba mengamati kenapa Allah menggabungkan antara tasbih dan tahmid serta istighfar pada ayat terakhir surah An-Nashr. Tasbih merupakan ungkapan seorang hamba yang kagum terhadap kemudahan yang diberikan Allah untuk merealisasikan kemenangan yang secara logika manusia kemengan itu sungguh di luar dugaan dan jauh dari prediksi normal manusia. Sedangkan Tahmid merupakan ungkapan pujian dan syukur seorang hamba atas anugerah kemenangan yang tiada terhingga setelah pahit perih perjalanan perjuangan yang dilaluinya. Istighfar pula merupakan ungkapan sadar hamba Allah bahwa bisa jadi dalam proses meraih kemenangan tersebut terdapat beberapa hal yang masih jauh dari kehendak dan aturan Allah yang semestinya dipatuhi, sehingga segala usaha yang dijalankan diserahkan sepenuhnya kepada Allah sambil memohon ampunanNya.
Surah An-Nashr yang pendek ini menurut Sayyid Quthb selain merupakan berita gembira Allah akan jaminan kemenangan yang besar bagi mereka yang memperjuangkan agamaNya. Surat ini juga merupakan arahan ketika kemenangan telah tercapai agar tidak lepas dan putus dari terus melakukan komunikasi dengan Allah dalam bentuk tasbih, tahmid dan istighfar. Karena tasbih, tahmid dan istighfar merupakan pengakuan akan kelemahan manusia dan pada masa yang sama merupakan pengakuan akan kekuatan dan kekuasaanNya yang tidak terbatas untuk melakukan apapun yang dikehendakiNya meskipun di luar batas logika manusia. Tidak ada sesuatu yang mustahil bagi Allah dalam konteks kemenangan yang akan diberikan kepada hamba-hambaNya yang menjunjung tinggi aturan dan ajaran agamaNya.
Sungguh satu contoh keteladanan yang sempurna dalam mengisi kemenangan dari orang-orang muhajirin; ketika masih dalam kondisi tertindas, mengalami keperihan dan gangguan dalam kehidupan awal mereka, kemudian Allah memberikan mereka kekuatan dan pertolonganNya sehingga mereka berhasil meraih kekuasaan dan kemenangan, mereka tetap komit dan istiqamah dengan sikap terbaik seperti yang ditunjukkan pada kehidupan awal mereka tanpa sedikitpun bergeming dan bergeser dari ajaran Allah. Satu contoh keteladanan juga dalam mempersiapkan kemenangan dan pertolongan Allah yang dibuktikan oleh komitmen mereka yang tinggi terhadap ajaran Allah swt. Semoga kita bisa menjadikan mereka contoh terbaik dalam mempersiapkan dan mengisi kemenangan yang segera, akan, dan telah kita raih di masa-masa yang akan datang sesuai dengan janji Allah dalam firmanNya:

“Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal yang shalih bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di muka bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhai-Nya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka dalam ketakutan menjadi aman sentausa. Mereka tetap menyembahku-Ku dengan tiada mempersekutukan sesuatu apapun dengan Aku. Dan barangsiapa yang (tetap) kafir sesudah (janji) itu, maka mereka itulah orang-orang yang fasik“. (An-Nur: 55)

Tiada ulasan:

Catat Ulasan

Cari Blog Ini